BTM.CO.ID, BATAM – Presiden Prabowo Subianto menyoroti persoalan krisis air yang dipicu oleh kerusakan lingkungan, terutama akibat deforestasi dan pembabatan kawasan perbukitan secara masif. Hal tersebut disampaikannya dalam Rapat Kerja Kabinet Merah Putih pada Rabu (8/4/2026).
Dalam arahannya, Prabowo menegaskan bahwa hutan dan kawasan perbukitan memiliki peran penting sebagai daerah resapan air. Ketika hutan ditebang dan lahan digunduli, kemampuan tanah dalam menyerap air menurun drastis, yang berdampak langsung pada berkurangnya ketersediaan air bersih.
Ia juga menyinggung tingginya curah hujan di Indonesia yang seharusnya menjadi berkah jika dikelola dengan baik.
“Kadang-kadang kita kelebihan air. Satu hari hujan di Bogor bisa setara dengan satu tahun hujan di Australia Barat,” ujarnya.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa distribusi dan pengelolaan air masih menjadi tantangan, terutama di wilayah tertentu di Indonesia yang masih mengalami kekurangan air bersih.
“Airnya ada, tinggal mampu atau tidak kita mendapatkannya dan menjaganya. Kadang-kadang kita sendiri yang tidak dapat menjaga alam kita. Hutan kita dibabat, pohon-pohon di gunung ditebang, akhirnya air tidak dapat ditahan dan terjadi kekeringan,” tegasnya.
Fenomena yang disampaikan Presiden dinilai relevan dengan kondisi di Batam. Sejumlah kawasan perbukitan seperti Bukit Daeng dan Bukit Vista diketahui mengalami pembabatan hutan alami.
Padahal, kawasan tersebut selama ini berfungsi sebagai daerah tangkapan air yang menyuplai kebutuhan ke Danau Muka Kuning dan Danau Sei Ladi. Kedua danau tersebut merupakan sumber utama penyediaan air bersih bagi masyarakat Batam.
Jika kerusakan lingkungan terus berlanjut, bukan tidak mungkin krisis air di Batam akan semakin parah di masa mendatang.
Karena itu, diperlukan langkah tegas untuk menjaga kelestarian hutan dan kawasan resapan air, termasuk pengawasan ketat terhadap aktivitas pembukaan lahan yang tidak terkendali. (Btm/ddr)








