NEWS VIDEO : Proyek Cut and Fill Dekat Sunny Bay Piayu Diduga Keruk Bukit dan Rusak Hutan Mangrove di Depan Pesona Bukit Laguna

  • Bagikan

BTM.CO.ID, BATAM – Aktivitas proyek cut and fill di kawasan dekat Sunny Bay, Kelurahan Piayu, Kota Batam, kembali menuai sorotan warga. Proyek yang diduga mengeruk bukit di depan Perumahan Pesona Bukit Laguna itu dianggap telah mengakibatkan kerusakan lingkungan, termasuk mangrove yang berada di sekitar lokasi.

Pantauan di lapangan pada Rabu (19/11/2025), tampak alat berat beroperasi di area perbukitan yang sudah dipangkas. Tanah hasil kerukan mengalir ke area bawah dan mengancam ekosistem mangrove yang tumbuh di sepanjang garis pantai kecil di kawasan tersebut.

Warga setempat mengaku resah karena aktivitas tersebut dilakukan tanpa papan informasi proyek yang menjelaskan izin, pelaksana, maupun tujuan pekerjaan.

BACA JUGA:   Amsakar - Li Cloudia Apresiasi Petugas Kebersihan di Batam, Salurkan 1.500 Paket Bantuan Sembako

“Semenjak ada pengerukan ini, air jadi keruh kalau hujan. Mangrove di bawah sudah mulai tertutup lumpur,” ungkap salah satu warga Pesona Bukit Laguna yang enggan disebutkan namanya.

Menurut warga, aktivitas cut and fill tersebut telah berlangsung beberapa minggu terakhir. Mereka menduga pekerjaan dilakukan untuk persiapan lahan pembangunan komersial atau perumahan baru.

BACA JUGA:   Menginap di HARRIS Resort Waterfront Batam Cuma Rp 450 Ribu, Berkesempatan Mendapatkan 30 Juta Program Stay & Win

Namun hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak pengembang maupun instansi terkait.

Pemerhati lingkungan di Batam turut menyoroti kegiatan ini. Mereka menilai pengerukan bukit dengan jarak yang sangat dekat pemukiman berpotensi menimbulkan longsor serta merusak resapan air.

Di sisi lain, mangrove yang terdampak memiliki fungsi vital mencegah abrasi dan menjaga ekosistem pesisir.

BACA JUGA:   TNI AU Lanud Hang Nadim Batam Akan Resmikan Tempat Wisata Aero Sport Center di Bukit Gendang

Warga berharap BP Batam maupun Pemko Batam segera turun meninjau lokasi dan memastikan apakah proyek tersebut memiliki kajian Analisis Dampak Lingkungan (Amdal) atau UKL-UPL sebagaimana diatur peraturan.

“Kami tidak anti pembangunan, tapi jangan sampai merusak alam dan membahayakan kami yang tinggal di bawah bukit,” tambah warga lain.

Hingga kini belum ada respon resmi dari pihak pemerintah maupun pengelola proyek mengenai dugaan pengerusakan lingkungan ini. (btm/tim/DDR)

  • Bagikan