BTM.CO.ID, BATAM – Pertumbuhan kebutuhan listrik di Kota Batam yang menembus lebih dari 15 persen mendorong PT PLN Batam menyiapkan penambahan pembangkit berkapasitas besar dan teknologi penyimpanan energi berbasis baterai untuk memperkuat keandalan sistem kelistrikan Batam-Bintan.
Direktur Utama PT PLN Batam, Kwin Fo, mengatakan pertumbuhan kebutuhan listrik di Batam jauh melampaui pertumbuhan kelistrikan nasional yang berada di kisaran 3–4 persen.
Kondisi tersebut menuntut kesiapan infrastruktur kelistrikan yang lebih kuat, terutama dalam menjaga kecukupan pasokan dan cadangan daya di tengah meningkatnya kebutuhan energi masyarakat maupun dunia usaha.
“Pertumbuhan kelistrikan di Kota Batam ini sudah di atas 15 persen. Oleh karena itu, kita akan membangun pembangkit-pembangkit besar sebagai tambahan,” ujar Kwin Fo dalam konferensi pers terkait pengembangan sistem kelistrikan Batam-Bintan di Kantor PLN Batam, Minggu (18/10/2026).
Menurutnya, penambahan pembangkit diperlukan untuk menjaga cadangan daya atau reserve margin. Dengan cadangan yang memadai, sistem kelistrikan diharapkan mampu mengantisipasi lonjakan permintaan sekaligus meminimalkan dampak ketika salah satu unit pembangkit mengalami gangguan.
Selain menambah kapasitas pembangkit, PLN Batam juga merencanakan pengembangan Battery Energy Storage System (BESS), yakni sistem penyimpanan energi berbasis baterai.
Teknologi ini dinilai dapat membantu menjaga kestabilan sistem kelistrikan karena mampu merespons kebutuhan daya dalam waktu sangat singkat.
Kwin Fo menjelaskan, pembangkit konvensional yang berhenti beroperasi membutuhkan waktu untuk kembali menyala dan mencapai kapasitas operasi. Durasi pemulihan tersebut dapat mencapai berjam-jam, bergantung pada jenis pembangkit dan kondisi operasionalnya.
Sementara itu, sistem baterai dapat melepaskan daya dalam hitungan milidetik. Kecepatan respons tersebut berpotensi membantu menutup kekurangan pasokan pada fase awal ketika terjadi gangguan kelistrikan.
“Baterai ini sangat berguna untuk meningkatkan keandalan sistem kelistrikan Batam-Bintan,” katanya.
Pengembangan pembangkit dan BESS menjadi bagian dari langkah PLN Batam untuk mengantisipasi pertumbuhan kebutuhan energi sekaligus meningkatkan ketahanan sistem kelistrikan di Batam dan Bintan.
Dalam kesempatan yang sama, Kwin Fo menekankan pentingnya menjaga keberlangsungan pasokan listrik di Batam, Bintan, dan Tanjungpinang agar gangguan kelistrikan tidak menimbulkan dampak yang lebih luas bagi masyarakat.
Menurutnya, pemadaman listrik tidak hanya mengganggu aktivitas rumah tangga dan industri, tetapi juga berpotensi memengaruhi layanan publik, distribusi air bersih, hingga akses internet.
Karena itu, kesiapan sumber listrik cadangan menjadi hal penting bagi fasilitas umum dan pelaku usaha untuk menghadapi kemungkinan pemadaman dalam durasi panjang.
Hotel dan fasilitas pelayanan publik, misalnya, perlu memastikan genset cadangan tersedia dan dapat beroperasi dengan baik ketika pasokan listrik utama terhenti.
Hal serupa juga berlaku bagi penyedia layanan air bersih. Sejumlah rumah pompa bergantung pada pasokan listrik untuk mendistribusikan air kepada pelanggan.
Ketersediaan sumber listrik cadangan diperlukan agar distribusi air tetap berjalan ketika terjadi gangguan pasokan listrik utama.
Kwin Fo menilai langkah antisipasi tersebut penting karena listrik merupakan infrastruktur dasar yang menopang berbagai layanan penting, terutama di wilayah kepulauan seperti Batam dan Bintan.
Di sisi lain, tim teknis PLN Batam bersama tim Polda Kepulauan Riau dan Bareskrim Mabes Polri telah melakukan serangkaian pengujian terhadap peralatan di Gardu Induk Sungai Harapan.
Pemeriksaan meliputi commissioning test atau pengujian fungsi peralatan, penelusuran riwayat pemeliharaan, serta pengujian lanjutan terhadap sejumlah perangkat kelistrikan.
Berdasarkan hasil pengujian yang disampaikan, pemutus tenaga atau circuit breaker 150 kV telah menjalani pemeriksaan waktu operasi dan keserentakan kerja. Hasilnya menunjukkan peralatan tersebut berfungsi normal.
Pengujian serupa dilakukan terhadap pemutus daya 20 kV, termasuk pemeriksaan waktu kerja dan keserentakan operasinya.
Peralatan pendukung berupa baterai dan catu daya arus searah atau DC power supply juga diperiksa dan dinyatakan berfungsi dengan baik.
Secara keseluruhan, hasil pemeriksaan menyebutkan peralatan yang diuji dapat beroperasi secara normal saat proses normalisasi. Pengujian dilakukan dengan mengacu pada Standar PLN (SPLN) yang berlaku.
Pemeriksaan bersama tersebut menjadi bagian dari evaluasi teknis untuk memastikan fungsi peralatan gardu induk berjalan sesuai standar operasional.
Di tengah pertumbuhan kebutuhan listrik Batam yang terus meningkat, penambahan pembangkit, pengembangan teknologi penyimpanan energi, dan pemeliharaan infrastruktur menjadi langkah penting untuk menjaga keandalan pasokan listrik bagi masyarakat dan dunia usaha di Batam-Bintan. (Btm/tim/ddr)
