BTM.CO.ID, BATAM – Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) tidak hanya menghadirkan teknologi pembuatan foto dan video yang semakin realistis, tetapi juga melahirkan aplikasi pendeteksi keaslian konten digital. Sejumlah aplikasi berbasis AI kini dikembangkan khusus untuk memeriksa apakah sebuah gambar atau video merupakan hasil manipulasi atau rekayasa AI (deepfake).
Fenomena maraknya foto dan video palsu di media sosial mendorong para peneliti dan perusahaan teknologi menciptakan sistem verifikasi digital.
Teknologi ini bekerja dengan menganalisis pola piksel, pencahayaan wajah, gerakan mata, sinkronisasi bibir, hingga jejak metadata yang kerap tertinggal dalam konten hasil rekayasa AI.
Beberapa aplikasi populer yang digunakan untuk mendeteksi keaslian konten visual antara lain Deepware Scanner, Hive Moderation, Reality Defender, serta Microsoft Video Authenticator.
Aplikasi-aplikasi tersebut memanfaatkan algoritma pembelajaran mesin (machine learning) untuk membandingkan karakteristik video atau foto dengan basis data deepfake yang telah dikumpulkan sebelumnya.
Tim sosmed dan Ai btm.co.id Rusdi mengatakan, untuk mengetahui video atau foto asli atau hasil rekayasa buatan (AI) sekarang sangat mudah dilakukan secara online. Website dan aplikasi ini dapat mendeteksi keaslian konten visual antara lain Deepware Scanner, Hive Moderation, Reality Defender, serta Microsoft Video Authenticator.

“AI tidak hanya menjadi alat untuk menciptakan konten palsu, tetapi juga menjadi solusi untuk melawannya. Teknologi pendeteksi deepfake sangat penting dalam menjaga kepercayaan publik terhadap informasi digital,” ujarnya selasa (30/12/2025).
Dalam situasi tertentu, aplikasi pendeteksi AI mampu menampilkan hasil analisis dalam bentuk persentase kemungkinan konten tersebut merupakan hasil rekayasa.
Misalnya, hasil seperti “No Deepfake Detected” dengan tingkat keyakinan tertentu, yang menunjukkan bahwa konten tersebut kemungkinan besar asli atau tidak dimanipulasi oleh AI.
Namun demikian, para ahli mengingatkan bahwa teknologi pendeteksi ini belum sepenuhnya sempurna. Seiring semakin canggihnya AI generatif, metode pemalsuan juga terus berkembang.
Oleh karena itu, masyarakat tetap diimbau untuk bersikap kritis, tidak mudah percaya pada konten viral, serta memverifikasi informasi dari berbagai sumber sebelum menyebarkannya.
Ke depan, kolaborasi antara pemerintah, platform media sosial, dan pengembang teknologi AI dinilai sangat penting untuk menekan penyebaran hoaks visual serta menjaga ekosistem digital yang sehat dan bertanggung jawab. (Btm/ddr)









