Batam Kue Bulan Fest 2026 Meriah, Wisman Singapura dan Malaysia Ikut Menikmati Perayaan Budaya

  • Bagikan

BTM.CO.ID, BATAM – Batam Kue Bulan Fest (Batam Moon Cake Festival) 2026 berlangsung meriah. Tak hanya masyarakat lokal, kegiatan yang digelar di Golden Prawn 933, Ballroom D, Bengkong Laut, Sabtu (26/9/2026) malam itu juga diramaikan wisatawan mancanegara (wisman) dari Singapura dan Malaysia.

Perayaan budaya Tionghoa tersebut dikemas dengan perpaduan seni budaya Nusantara, pertunjukan musik, jamuan makan malam hingga berbagai atraksi yang membuat suasana festival semakin semarak.

Batam Kue Bulan Fest diselenggarakan Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Kota Batam-Kepri berkolaborasi dengan Pemerintah Kota Batam melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam.

Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Pawai Khitong dan Budaya Nusantara Batam-Kepri 2026.

Kemeriahan festival ditandai dengan berbagai agenda, mulai dari pertunjukan seni, dinner, Mooncake Sharing, pertunjukan musik, lucky draw hingga Lantern Lighting Ceremony.

Hadir dalam kegiatan tersebut Wali Kota Batam Amsakar Achmad yang diwakili Kepala Disbudpar Kota Batam Ardiwinata, perwakilan TP PKK dan DWP Kota Batam, Ketua PSMTI Provinsi Kepri Randy Tan, Ketua PSMTI Kota Batam Acun Tan, serta sejumlah pimpinan organisasi dan asosiasi pariwisata di Kepri dan Kota Batam.

Ketua PSMTI Provinsi Kepri Randy Tan mengapresiasi kolaborasi PSMTI Kota Batam bersama Pemko Batam melalui Disbudpar dalam menyelenggarakan festival tersebut.

Menurutnya, Batam Kue Bulan Fest menjadi momentum untuk memperkuat kebersamaan sekaligus memperkenalkan budaya Tionghoa kepada masyarakat yang lebih luas.

“Kami sangat mengapresiasi panitia penyelenggara, PSMTI Kota Batam yang berkolaborasi dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam. Ke depan, kita berharap kegiatan ini dapat kita kembangkan dengan skala yang lebih besar lagi,” ujar Randy.

Ia mengatakan, perayaan Kue Bulan juga memiliki makna tentang kebersamaan dan keharmonisan.

“Semoga bulan yang bulat dan terang malam ini membawa kebersamaan, kebahagiaan, kesehatan dan keberkahan bagi kita semua. Moon Cake sendiri mewakili semangat kebersamaan dan keharmonisan,” katanya.

Sementara itu, Kepala Disbudpar Kota Batam Ardiwinata yang hadir mewakili Wali Kota Batam Amsakar Achmad mengapresiasi pelaksanaan Batam Kue Bulan Fest 2026.

Ardiwinata menjelaskan, penggunaan nama “Batam Kue Bulan” merupakan upaya memberikan sentuhan Indonesia dalam pengemasan kegiatan budaya tersebut.

“Saya di sini mewakili Wali Kota Batam, Bapak H. Amsakar Achmad ingin menyampaikan bahwa acara malam ini sangat luar biasa dan sangat megah. Saya sengaja menggunakan nama Batam Kue Bulan agar ada rasa Indonesianya, karena budaya Tionghoa juga sangat lekat dengan kebudayaan Indonesia,” ujar Ardiwinata.

Menurutnya, kolaborasi pemerintah dengan komunitas budaya menjadi bagian penting dalam mengembangkan ekosistem kebudayaan dan pariwisata di Kota Batam.

Ia juga mengaitkan pengembangan kegiatan budaya dengan salah satu program prioritas Pemko Batam, yakni pembangunan dan revitalisasi Taman Budaya Kota Batam.

“Pemerintah Kota Batam saat ini sedang mewujudkan 15 program prioritas Wali Kota Batam. Salah satunya adalah pembangunan atau revitalisasi Taman Budaya Kota Batam. Gedung Beringin yang berada di Sekupang akan direvitalisasi menjadi Taman Budaya Kota Batam untuk menampung berbagai aktivitas budaya dan seni,” katanya.

Ardiwinata berharap keberadaan Taman Budaya nantinya dapat memberikan ruang yang lebih luas bagi komunitas dan pelaku seni untuk mengembangkan berbagai kegiatan kebudayaan di Batam.

Dalam pelaksanaannya, Batam Kue Bulan Fest turut dihadiri wisatawan dari Singapura dan Malaysia. Festival tersebut juga menampilkan sejumlah pertunjukan yang memadukan budaya Tionghoa dengan kebudayaan Nusantara.

Acara diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Batamku. Selanjutnya, penonton disuguhkan Tari Sekapur Sirih yang dibawakan penari Wansendari dari Disbudpar Kota Batam.

Pertunjukan dilanjutkan dengan Tari Pulau Putri oleh Wansendari, penampilan Cassanova Band, penari dari Sekolah Bodhi Dharma serta Mooncake Sharing yang menjadi salah satu bagian khas Festival Kue Bulan.

Nuansa Nusantara kembali hadir melalui Tari Nusantara yang dibawakan Wansendari.

Kegiatan semakin semarak dengan lucky draw khusus tamu travel yang diikuti sejumlah agen perjalanan, sebelum ditutup dengan Lantern Lighting Ceremony.

Selain menjadi ruang perayaan tradisi, Batam Kue Bulan Fest juga mempertemukan komunitas budaya, pemerintah, pelaku pariwisata dan masyarakat.

Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan kegiatan budaya yang tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga memiliki nilai tambah terhadap sektor pariwisata Kota Batam.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan pada Minggu (27/9/2026) melalui Pawai Khitong dan Budaya Nusantara Batam-Kepri 2026.

Pawai tersebut akan menghadirkan peserta Khitong serta berbagai kelompok seni dan budaya dari sejumlah daerah.

Batam Kue Bulan Fest 2026 pun menjadi bagian dari rangkaian perayaan yang mempertemukan tradisi Tionghoa dengan kekayaan budaya Indonesia, sekaligus memperkuat kolaborasi untuk mengembangkan Batam sebagai kota dengan keberagaman budaya dan atraksi wisata. (Btm/r)

  • Bagikan
Exit mobile version