BTM.CO.ID, JAKARTA – Kepala Staf Kepresidenan, Jenderal TNI (Purn.) Prof. Dr. Dudung Abdurachman menyampaikan belasungkawa mendalam atas meninggalnya lima peserta Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) saat mengikuti pendidikan dan pelatihan di sejumlah satuan pendidikan militer.
Pernyataan tersebut disampaikan Dudung di Gedung Bina Graha, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (26/6/2026).
“Saya mengetahui dari Sesneg bahwa tidak ada kelalaian. Namun, hal ini sedang dievaluasi dan diinvestigasi,” ujar Dudung.
Ia juga menyampaikan duka cita kepada keluarga para peserta yang meninggal dunia.
“Saya mengucapkan belasungkawa sedalam-dalamnya. Semoga almarhum dan almarhumah diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa,” ucapnya.
Menurut Dudung, seluruh kegiatan pelatihan harus tetap mengutamakan faktor keselamatan agar tidak kembali memakan korban.
“Latihan harus sesuai prosedur. Faktor keselamatan harus diutamakan agar tidak menelan korban,” tegasnya.
Meski demikian, Dudung menilai kegiatan pendidikan tersebut tetap memiliki peran penting dalam membangun jiwa korsa, disiplin, serta karakter para peserta.
Sementara itu, Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kementerian Pertahanan Brigjen TNI Frega Ferdinand Wenas Inkiriwang menjelaskan kronologi meninggalnya lima peserta SPPI berdasarkan laporan resmi Kementerian Pertahanan.
Kelima peserta yang meninggal dunia yakni:
- Yonanda Muhammad Taufiq
- Anisa Muyassaroh
- Novia Rahmadhani Sihotang
- Muhammad Rifki Renaldi Gunawan
- Nola Dya Sari
Kronologi Meninggalnya Lima Peserta SPPI
1. Yonanda Muhammad Taufiq
Yonanda mengikuti pelatihan di Satdik Pusdiklatpur Kodiklatad Baturaja. Pada 17 Juni 2026 sekitar pukul 16.00 WIB, ia mengikuti pengenalan lingkungan dengan berjalan kaki bersama peserta lainnya.
Sekitar pukul 17.17 WIB, pelatih menemukan Yonanda mengalami penurunan kesadaran. Ia segera dievakuasi ke pos kesehatan dan kemudian dibawa menggunakan ambulans. Meski telah mendapat penanganan medis intensif, dokter menyatakan Yonanda meninggal dunia pada pukul 18.33 WIB akibat cardiac arrest atau henti jantung.
2. Anisa Muyassaroh
Anisa menjalani pendidikan di Satdik Dodik Kejuruan Rindam VI/Mulawarman Balikpapan. Pada 18 Juni 2026 sekitar pukul 13.35 WITA, ia mengeluhkan sesak napas disertai mual sebelum kegiatan pembelajaran dimulai.
Anisa langsung dievakuasi ke pos kesehatan dan dirujuk ke Rumah Sakit dr. R. Hardjanto Balikpapan. Kondisinya terus memburuk hingga pukul 19.00 WITA dokter menyatakan meninggal dunia. Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, penyebab kematian adalah heat stroke.
3. Novia Rahmadhani Sihotang
Novia mengikuti pendidikan di Satdik Pusbahasa Kodiklat Angkatan Udara. Pada 22 Juni 2026, ia datang ke unit kesehatan dengan keluhan batuk berdahak, sesak napas, dan demam.
Setelah kondisinya memburuk, Novia dirujuk ke RS dr. Esnawan Antariksa. Hasil pemeriksaan menunjukkan Novia menderita tuberkulosis paru aktif. Meski sempat dilakukan resusitasi jantung paru, Novia dinyatakan meninggal dunia pada 23 Juni 2026 pukul 15.13 WIB akibat tuberkulosis.
4. Muhammad Rifki Renaldi Gunawan
Rifki menjalani pelatihan di Satuan Pendidikan Yon Parako 465 Halim Perdanakusuma. Pada 25 Juni 2026, ia mengeluhkan sesak napas dan lemas.
Setelah mendapat terapi oksigen, kondisinya sempat membaik. Namun pada malam harinya sesak napas kembali muncul sehingga dirujuk ke Rumah Sakit Angkatan Udara dr. Esnawan Antariksa.
Pada 26 Juni 2026 pukul 00.28 WIB, Rifki dinyatakan meninggal dunia. Berdasarkan resume medis, penyebab kematiannya adalah pneumonia atau infeksi paru-paru yang disertai komplikasi medis. Riwayat hipertensi dan obesitas juga menjadi bagian dari evaluasi medis.
5. Nola Dya Sari
Nola mengikuti pendidikan di Satuan Pendidikan Dodik Bela Negara Kalimantan. Pada 26 Juni 2026, ia sempat mengikuti kegiatan pembelajaran tanpa keluhan.
Sekitar pukul 18.45 WIB, Nola mengeluhkan sesak napas dan badan terasa panas. Ia segera dirujuk ke rumah sakit. Dalam proses penanganan, Nola mengalami henti jantung sehingga dilakukan resusitasi dan tindakan kardioversi.
Namun nyawanya tidak tertolong dan pada pukul 21.03 WIB dinyatakan meninggal dunia.
Kementerian Pertahanan menyatakan seluruh peserta yang meninggal sebelumnya telah menjalani tahapan seleksi kesehatan dan dinyatakan memenuhi syarat mengikuti pendidikan, meski pada beberapa peserta terdapat catatan kondisi medis seperti kelebihan berat badan.
Pemerintah memastikan peristiwa tersebut masih dalam proses evaluasi dan investigasi guna memastikan penyebab serta mencegah kejadian serupa terulang. (Btm/r/ddr)
