BTM.CO.ID, JAKARTA – Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid angkat bicara terkait ramainya unggahan mantan anggota parlemen Singapura, Calvin Cheng Ern Lee, yang memicu polemik mengenai kabel internet Indonesia yang melintasi perairan Singapura.
Meutya mengimbau masyarakat Indonesia agar tidak terpancing emosi dalam menanggapi unggahan tersebut. Ia menegaskan, infrastruktur komunikasi digital merupakan bagian penting yang perlu dijaga bersama.
Dalam unggahan di akun Instagram pribadinya, Meutya menjelaskan bahwa sistem komunikasi kabel laut (SKKL) yang mendarat di Singapura memiliki jalur yang sebagian besar melintasi perairan Indonesia.
“Kita tidak perlu geram. Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) yang mendarat di Singapura, tidak sampai dengan tiba-tiba. Sebagian besar jalurnya melalui perairan Indonesia,” ujar Meutya dalam unggahan yang dikutip BTM.CO.ID, Selasa (27/10/2026).
Meutya juga menyoroti besarnya ketergantungan konektivitas digital Singapura terhadap infrastruktur kabel laut yang melintasi kawasan tersebut.
“Jika terpotong atau dipotong, 80% kapasitas konektivitas Singapura juga terancam lumpuh. Penduduk Indonesia jumlahnya 47 kali lipat dari Singapura. 267 juta masyarakat terhubung ke internet. Tanpa angka ini, investor perusahaan teknologi global berpotensi angkat kaki dari Singapura,” ungkapnya.
Menurut Meutya, infrastruktur digital tidak seharusnya dipandang sebagai alat untuk mempertajam perselisihan antarnegara. Keberadaan jaringan kabel laut memiliki peran strategis bagi konektivitas regional hingga global.
“Kita tidak boleh berpikir kerdil. Infrastruktur digital adalah sektor yang perlu dijaga bersama, tidak hanya untuk kepentingan kedua negara tapi juga untuk konektivitas global,” tegasnya.
Polemik mengenai kabel internet Indonesia mencuat setelah Calvin Cheng Ern Lee mengunggah infografis melalui akun media sosial X pribadinya pada 25 Oktober 2026.
Dalam unggahan tersebut, Cheng membagikan data yang mengklaim bahwa 90 persen lalu lintas internet internasional Indonesia bergantung pada dan melewati infrastruktur di Singapura.
Ia kemudian menyertakan takarir singkat berupa satu kata, yakni “Potong?” atau “Cut?” dalam bahasa Inggris.
Unggahan itu memicu reaksi keras dari warganet Indonesia. Sejumlah pengguna media sosial menilai pernyataan tersebut sebagai bentuk provokasi karena menyinggung kemungkinan pemutusan kabel internet yang menghubungkan Indonesia dengan jaringan internasional.
Di tengah polemik tersebut, pernyataan Meutya menjadi pengingat bahwa infrastruktur komunikasi digital memiliki keterkaitan lintas negara dan berperan penting dalam menopang aktivitas ekonomi, investasi, serta komunikasi masyarakat.
Karena itu, isu mengenai kabel internet bawah laut perlu disikapi secara proporsional dengan mempertimbangkan kepentingan konektivitas digital dan hubungan antarnegara. (BTM/DDR)
