BTM.CO.ID, JAKARTA – Pemerintah melalui Menteri Investasi/Kepala BKPM, Rosan Roeslani, melaporkan capaian realisasi investasi nasional pada Triwulan I Tahun 2026 menunjukkan tren positif. Realisasi investasi tercatat mencapai Rp498,79 triliun atau sekitar 100,3 persen dari target kuartal pertama sebesar Rp497 triliun.
Capaian tersebut juga mengalami pertumbuhan sebesar 7,2 persen secara tahunan (year-on-year), menandakan iklim investasi di Indonesia terus menguat di tengah dinamika ekonomi global.
Dalam konferensi pers yang digelar baru-baru ini, Rosan menjelaskan bahwa kontribusi investasi masih ditopang oleh Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA). Dari total realisasi, PMDN berkontribusi sekitar 49,89 persen, sementara PMA mencapai Rp249,94 triliun.
“Realisasi investasi di kuartal pertama tahun 2026 telah mencapai Rp498,79 triliun atau melampaui target yang ditetapkan. Ini meningkat 7,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu,” ujarnya.
Dari sisi penyerapan tenaga kerja, investasi tersebut berhasil menyerap sebanyak 706.589 tenaga kerja di berbagai sektor.
Secara geografis, sebaran investasi relatif merata antara wilayah luar Pulau Jawa dan Pulau Jawa. Investasi di luar Jawa tercatat mencapai 50,37 persen, sementara di Pulau Jawa sebesar 49,63 persen atau senilai Rp247,53 triliun.
Adapun provinsi tujuan utama investasi di Pulau Jawa antara lain DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Timur, dan Jawa Tengah.
Sementara itu, berdasarkan asal negara, lima besar investor asing terbesar berasal dari Singapura dengan nilai sekitar 4,6 miliar dolar AS, disusul Hong Kong sebesar 2,7 miliar dolar AS, Tiongkok 2,2 miliar dolar AS, Amerika Serikat 1,7 miliar dolar AS, serta Jepang sekitar 1 miliar dolar AS. Kelima negara tersebut menyumbang sekitar 29 persen dari total investasi asing yang masuk ke Indonesia.
Dari sisi sektor usaha, industri logam dasar dan barang logam—termasuk smelter—menjadi penyumbang terbesar dengan nilai investasi Rp64,2 triliun. Disusul sektor pertambangan sebesar Rp51,9 triliun, perumahan dan kawasan industri Rp47,9 triliun, serta sektor transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi sebesar Rp45,4 triliun.
Rosan menegaskan bahwa capaian ini tidak terlepas dari berbagai kebijakan pemerintah dalam mendorong kemudahan berusaha, seperti penyederhanaan perizinan, implementasi sistem berbasis risiko, serta penguatan kepastian hukum bagi investor.
Ke depan, pemerintah akan terus mengoptimalkan potensi investasi di sektor-sektor strategis, termasuk hilirisasi industri, energi terbarukan, dan pengembangan kawasan industri di berbagai daerah.
Dengan capaian awal tahun yang positif ini, pemerintah optimistis target investasi nasional tahun 2026 dapat tercapai dan memberikan dampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi serta penciptaan lapangan kerja. (Btm/ddr)








