BTM.CO.ID, JAKARTA – Badan Gizi Nasional (BGN) resmi memulai pilot project program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan sistem prasmanan di 64 sekolah mulai 5 Oktober 2026.
Program tersebut mengusung slogan “Ambil Secukupnya, Habiskan Semuanya” sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas penyajian makanan sekaligus mengurangi potensi food waste.
Kepala BGN Sudaryono mengatakan, penerapan sistem prasmanan ini masih dalam tahap uji coba untuk melihat metode penyajian MBG yang paling efektif.
“BGN sedang menguji membawa makanan hangat langsung ke kelas dan menyajikannya secara prasmanan,” ujar Sudaryono.
Menurutnya, penerapan sistem baru tersebut akan dievaluasi secara bertahap.
“Pelan-pelan, kita lihat mana yang paling baik,” katanya.
Pada tahap awal, sebanyak 64 sekolah yang tersebar di Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur telah menerapkan sistem MBG prasmanan.
Konsep ini terinspirasi dari keberhasilan program makan siang sekolah di Jepang yang telah diterapkan selama puluhan tahun.
Melalui sistem prasmanan, proses pemorsian makanan di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dapat dipangkas. Hal ini diharapkan dapat meminimalkan risiko kontaminasi sekaligus menjaga makanan tetap segar saat disantap siswa.
Makanan hangat dibawa langsung ke kelas untuk kemudian disajikan secara prasmanan. Para siswa dapat mengambil makanan sesuai kebutuhan porsi masing-masing.
Selain memberikan keleluasaan dalam menentukan porsi, mekanisme ini juga diharapkan dapat mengurangi sisa makanan atau food waste.
Penerapan MBG prasmanan juga menjadi bagian dari pembelajaran bagi siswa. Mereka tidak hanya mendapatkan makanan bergizi, tetapi turut belajar mengenai tata cara penyajian makanan, kedisiplinan, kebersihan, serta semangat gotong royong.
Antusiasme siswa terlihat saat mengikuti pelaksanaan MBG dengan sistem tersebut. Mereka mengambil makanan secara mandiri sesuai kebutuhan sebelum menikmati hidangan bersama di kelas.
BGN akan terus mengevaluasi pelaksanaan pilot project tersebut untuk menentukan metode penyajian MBG yang dinilai paling efektif dan sesuai dengan kebutuhan penerima manfaat. ( btm/DDR)








