BTM.CO.ID, BATAM – Pemadaman listrik yang melanda Kota Batam pada Senin (12/10/2026) berlangsung selama 11 jam 11 menit. Pasokan listrik yang mulai terganggu sejak pukul 06.37 WIB baru kembali menyala pada pukul 17.48 WIB Menurut PLN Batam.
Gangguan sistem kelistrikan tersebut berdampak pada aktivitas masyarakat, kegiatan usaha, hingga operasional pusat perbelanjaan. Tak hanya listrik, sejumlah warga juga mengalami gangguan pasokan air bersih akibat pompa air yang tidak beroperasi selama pemadaman.
Salah seorang warga Sagulung, Kota Batam yang enggan disebutkan namanya menceritakan pengalamannya saat menghadapi pemadaman listrik bersama keluarga.
Ia mengaku beruntung dan bersyukur karena saat listrik padam, dirinya bersama keluarga sedang berlibur di Harris Resort Marina. Mereka melakukan check-in pada Minggu dan check-out pada Senin sekitar pukul 12.00 WIB.
“Kami tidak langsung pulang setelah check-out. Kami belanja kebutuhan bulanan terlebih dahulu di Top 100 Grand Batam Mall hingga petang,” ujarnya, Rabu (14/10/2026).
Setelah berbelanja, ia bersama keluarga kemudian pulang ke rumahnya di Sagulung. Mereka tiba sekitar pukul 19.30 WIB.
Saat tiba di rumah, listrik masih padam. Namun, sekitar 13 menit kemudian, pasokan listrik kembali menyala.
“Setelah sampai di rumah sekitar pukul 19.30 WIB, ternyata listrik masih mati. Selang 13 menit, lampu akhirnya menyala kembali,” katanya.
Meski listrik kembali menyala, persoalan lain justru muncul. Pasokan air ke rumahnya tidak mengalir selama beberapa jam.
Ia mengatakan, air tidak tersedia sejak keluarga tiba di rumah sekitar pukul 19.30 WIB hingga pukul 23.45 WIB.
“Untungnya kami memiliki cadangan air di toren, sehingga kebutuhan mandi, cuci, dan kakus (MCK) masih bisa terpenuhi,” tuturnya.
Pengalaman tersebut menjadi pelajaran bagi keluarganya mengenai pentingnya menyiapkan kebutuhan dasar saat terjadi gangguan utilitas.
Menurutnya, ketersediaan penampungan air dan sumber daya alternatif perlu menjadi perhatian setiap keluarga untuk mengantisipasi kondisi darurat.
“Mati lampu dan air mati menjadi evaluasi bagi saya. Ternyata, menampung air dan memiliki sumber daya alternatif menjadi kebutuhan bagi keluarga kami,” pungkasnya.
