Menteri ESDM Bahlil: B50 Lebih Berkualitas dari B40, Siap Perkuat Kemandirian Energi Nasional

  • Bagikan

BTM.CO.ID, KARAWANG – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa kualitas bahan bakar biodiesel B50 lebih baik dibandingkan B40. Hal itu disampaikannya saat mendampingi Presiden Prabowo Subianto dalam peluncuran implementasi B50 di Karawang, Jawa Barat, Kamis (9/7/2026).

Peluncuran B50 mengusung tema “Langkah Nyata untuk Kemandirian dan Ketahanan Energi Nasional” sebagai bagian dari upaya pemerintah memperkuat kemandirian energi melalui hilirisasi industri sawit dan pemanfaatan energi baru terbarukan berbasis biodiesel.

Bahlil mengatakan, sebelum diterapkan secara nasional, B50 telah melalui berbagai uji coba, termasuk pengujian jarak jauh menggunakan berbagai jenis kendaraan.

“Penggunaannya juga telah dilakukan tes panjang. Mobil Toyota dan Mercedes, yang merupakan pasar mobil Eropa, juga mampu menggunakan B50 dengan baik,” ujar Bahlil.

Ia menambahkan, hasil pengujian menunjukkan kualitas B50 lebih unggul dibandingkan B40.

“Alhamdulillah kualitas B50 jauh lebih baik dari B40. Hilirisasi CPO menjadi B50 ini juga akan meningkatkan kesejahteraan petani sawit,” katanya.

Menurut Bahlil, implementasi B50 memberikan dampak ekonomi yang besar bagi Indonesia. Selain mampu menekan impor energi hingga sekitar Rp170 triliun, program ini juga meningkatkan nilai tambah di dalam negeri serta membuka lapangan kerja baru.

“Program B50 mampu menurunkan nilai impor sekitar Rp107 triliun, meningkatkan nilai tambah, dan memperluas penyerapan tenaga kerja,” jelasnya.

Ia juga menyebut para pelaku usaha kini telah berkomitmen menggunakan produk biodiesel dalam negeri sebagai bentuk dukungan terhadap program pemerintah.

“Awalnya pengusaha belum menggunakan produk dalam negeri. Sekarang mereka sudah berkomitmen menggunakan B50,” ujarnya.

Ke depan, pemerintah juga akan mengembangkan bahan bakar berbasis bioetanol sebagai bagian dari transisi energi nasional.

“Kedepan etanol juga akan mengikuti jejak biodiesel, dengan memanfaatkan bahan baku dari tebu, singkong, dan jagung untuk produksi etanol,” tutup Bahlil. (Btm/ddr)

  • Bagikan
Exit mobile version