BTM.CO.ID, NATUNA — Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Jenderal TNI (Purn.) Djamari Chaniago memberikan penekanan langsung kepada seluruh aparat keamanan di Natuna, Kepulauan Riau. Dalam kunjungan kerja strategis pada Kamis (2/7/2026), ia menegaskan bahwa menjaga Natuna adalah harga mati demi menjaga marwah dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Didampingi Kepala Staf TNI Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali, Menko Polkam mendarat di Base Ops Lanud Raden Sadjad (RSA) menggunakan pesawat jet Gulfstream 500. Kedatangan pejabat tinggi negara ini disambut hangat dengan prosesi adat pemasangan Tanjak oleh Bupati Natuna Cen Sui Lan serta prosesi Tepung Tawar dari Lembaga Adat Melayu setempat, menandakan ikatan kuat antara pemerintah pusat, aparat, dan kearifan lokal.
Usai penyambutan adat, rombongan besar yang melibatkan jajaran tinggi TNI-Polri langsung bergerak menuju Markas Komando Gugus Tempur Laut (Guspurla) Koarmada I di Selat Lampa. Di sana, Menko Polkam menerima jajar kehormatan Valreep dan menggelar rapat tertutup.
Dalam sesi paparan, Danguspurla Koarmada I Laksma TNI Nurlan serta Danlanal Ranai Kolonel Laut (P) Ady Dharmawan memaparkan situasi terkini keamanan laut dan potensi kerawanan di wilayah perbatasan utara.
Puncak agenda berlangsung di Markas Batalyon Komposit 1/Gardapati. Di hadapan prajurit gabungan dari Lanud RSA, Lanal Ranai, Yon Komposit 1/Gardapati, Kodim 0318/Natuna, dan Polres Natuna, Menko Polkam menyampaikan pengarahan yang lugas dan penuh semangat.
7 Poin Vital Pengamanan Perbatasan
Djamari Chaniago menjabarkan tujuh poin instruksi presisi yang wajib dijalankan seluruh elemen pertahanan di Natuna:
- Amanah Garda Terdepan: “Anda adalah representasi negara. Tanggung jawab di perbatasan yang bersinggungan langsung dengan negara lain bukanlah tugas biasa,” tegasnya.
- Dampak Strategis: Setiap gerak-gerik dan kelalaian di perbatasan, sekecil apapun, memiliki dampak besar terhadap hubungan diplomatik dan citra Indonesia di mata internasional.
- Optimalisasi Matra: TNI AD, AL, AU, dan Polri tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Sinergi matra harus dijalankan optimal sesuai fungsi, tanpa ego sektoral.
- Amanat Konstitusi: Menjaga kedaulatan adalah perintah konstitusi untuk melindungi segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia.
- Pembinaan Berkelanjutan: Kemampuan tempur adalah keniscayaan. Para Bintara diwajibkan aktif melatih anggota agar naluri tempur dan kesiapsiagaan tetap terasah.
- Waspada Narkotika: Natuna dinilai rawan penyelundupan. Menko memberi ultimatum tegas agar aparat meningkatkan kewaspadaan dan tidak bermain api dengan jaringan kejahatan lintas batas.
- Profesional dan Siaga: Prajurit perbatasan harus mampu menggagalkan setiap ancaman sebelum berkembang menjadi gangguan nyata.
Sinergi Pusat dan Daerah
Rangkaian kegiatan diakhiri dengan sesi refreshment di VIP Graha Serasan. Menko Polkam dan rombongan lepas landas menuju Batam menggunakan jet Gulfstream 500, sementara Kasal beserta rombongan TNI AL menggunakan pesawat patroli maritim CN235-220.
Danlanal Ranai, Kolonel Laut (P) Ady Dharmawan, menutup kegiatan dengan optimisme. “Arahan ini adalah penguat bagi kami. Sinergi antara TNI, Polri, dan Pemda berjalan solid. Kami akan menjaga profesionalisme dan kedaulatan NKRI di setiap jengkal perairan Natuna,” ujarnya. (Btm/r)
