BTM.CO.ID, BATAM – Banjir yang berulang kali merendam kawasan Bengkong Baru, Bengkong Sadai hingga Bengkong Laut bukan lagi sekadar persoalan cuaca atau tingginya curah hujan.
Hujan deras memang menjadi pemicu, tetapi akar persoalan sesungguhnya berada pada buruknya tata kelola drainase dan menurunnya daya dukung lingkungan di sepanjang aliran parit utama Bengkong.
Selama ini, setiap kali banjir terjadi, hujan sering dijadikan kambing hitam. Padahal, air yang turun dari langit seharusnya dapat mengalir dengan baik menuju hilir dan bermuara ke laut. Yang menjadi persoalan adalah jalur aliran air tersebut kini tidak lagi berfungsi optimal.
Di bagian hulu, sejumlah parit dan saluran air mengalami pendangkalan akibat sedimentasi yang berlangsung bertahun-tahun tanpa penanganan menyeluruh.
Sementara di bagian hilir, terutama kawasan muara menuju laut, terjadi penyempitan dan pendangkalan yang menyebabkan air tertahan. Akibatnya, ketika hujan dengan intensitas tinggi turun, volume air yang besar tidak mampu tertampung dan akhirnya meluap ke permukiman warga.
Kondisi ini diperparah oleh kebiasaan sebagian masyarakat yang masih menjadikan parit sebagai tempat pembuangan sampah. Sampah plastik, ranting, limbah rumah tangga hingga material bangunan kerap ditemukan menyumbat saluran air.
Saat hujan datang, sampah-sampah tersebut berubah menjadi bendungan kecil yang menghambat laju air dan mempercepat terjadinya genangan.
Namun, menyalahkan masyarakat semata juga tidak adil. Pemerintah dan para pelaku usaha yang beraktivitas di sepanjang kawasan hilir juga memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga fungsi drainase dan daerah resapan air.
Pembangunan yang terus berlangsung harus dibarengi dengan komitmen menjaga ruang terbuka hijau serta memastikan tidak terjadi penyempitan saluran alami yang menjadi jalur pembuangan air menuju laut.
Redaksi menilai solusi penanganan banjir Bengkong harus dilakukan secara menyeluruh dari hulu hingga hilir. Langkah pertama yang mendesak adalah pengerukan parit utama Bengkong secara berkala dan terintegrasi.
Pendangkalan yang terjadi selama bertahun-tahun tidak bisa diselesaikan dengan pembersihan sesaat setelah banjir datang.
Selain itu, normalisasi muara dan saluran hilir perlu menjadi prioritas agar aliran air kembali lancar menuju laut. Pemerintah juga harus melakukan pemetaan titik-titik penyempitan yang menghambat aliran air, termasuk meninjau kembali bangunan atau aktivitas yang berpotensi mengganggu fungsi drainase.
Di sisi lain, kesadaran masyarakat harus terus dibangun. Kampanye stop membuang sampah ke parit tidak boleh berhenti sebagai slogan. Perlu pengawasan, edukasi, dan penegakan aturan yang konsisten agar perilaku merusak lingkungan tidak terus berulang.
Banjir Bengkong adalah masalah bersama yang membutuhkan tanggung jawab bersama. Pemerintah harus hadir dengan kebijakan dan tindakan nyata.
Pengusaha harus ikut menjaga lingkungan tempat mereka beroperasi. Masyarakat pun wajib mengubah kebiasaan buruk yang memperparah keadaan.
Jika hulu terus dangkal, hilir terus menyempit, dan parit terus dipenuhi sampah, maka setiap hujan deras akan selalu menjadi ancaman.
Sudah saatnya semua pihak berhenti saling menyalahkan dan mulai bekerja bersama. Sebab banjir di Bengkong bukan sekadar bencana alam, melainkan cermin dari bagaimana kita memperlakukan lingkungan selama ini. (Btm/Redaksi)
