BTM.CO.ID, BATAM – Ambisi menjadikan Batam sebagai pusat logistik dan pelabuhan transhipment internasional terus dipacu. PT Batam Terminal Petikemas (PTK) menargetkan peningkatan kapasitas terminal hingga mencapai 1,6 juta TEUs per tahun dalam beberapa tahun mendatang.
Direktur PTK, Capt. Basori Alwi, mengatakan target tersebut merupakan bagian dari komitmen dalam perjanjian konsesi jangka panjang selama 36 tahun 9 bulan bersama mitra operator global.
“Untuk mencapai kapasitas 1,6 juta TEUs, kami harus melakukan pengembangan yang signifikan, termasuk penambahan area sekitar 20 hektare serta penguatan infrastruktur terminal,” ujar Basori.
Pengembangan tersebut meliputi perluasan lahan, penambahan enam unit Ship to Shore (STS) Crane, serta 20 unit Rubber Tyred Gantry (RTG). Studi kelayakan (feasibility study) dijadwalkan dimulai pada 2027, dengan target operasional penuh pada periode 2028–2029.
Saat ini, arus petikemas di Batam mencapai sekitar 700 ribu TEUs per tahun. Sebanyak 60 persen merupakan aktivitas ekspor-impor, sementara sisanya berasal dari angkutan domestik.
Namun, peningkatan kapasitas hingga 1,6 juta TEUs tidak hanya mengandalkan pertumbuhan volume lokal. PTK menargetkan sekitar 1 juta TEUs berasal dari pasar transhipment internasional.
“Sekitar 1 juta TEUs yang kita targetkan ke depan adalah volume transhipment. Ini berarti Batam harus naik kelas menjadi hub internasional,” tegas Basori.
Untuk mewujudkan target tersebut, PTK memperkuat kerja sama dengan operator pelayaran global seperti SITC serta membidik masuknya perusahaan pelayaran besar dunia, di antaranya CMA CGM, Maersk Line, dan Wan Hai Lines.
Strategi ini diharapkan mampu menarik sebagian arus kapal yang selama ini terpusat di Singapura dan Pelabuhan Tanjung Pelepas agar beralih ke Batam.
Di sisi lain, konektivitas internasional Batam juga terus berkembang. Saat ini, terminal petikemas Batam telah terhubung dengan 32 pelabuhan utama dunia, mencakup rute ke India, Australia, serta membuka peluang ekspansi menuju Timur Tengah dan Eropa melalui Terusan Suez.
“Ke depan kita ingin seluruh konektivitas dunia dapat dilayani langsung dari Batam, termasuk rute ke Amerika, meski saat ini masih melalui transit di Shanghai,” jelasnya.
Sejak 2024, Batam juga berhasil menarik operator pelayaran besar di kawasan Intra-Asia, seperti Evergreen Marine dan COSCO Shipping. Kehadiran perusahaan-perusahaan tersebut semakin memperkuat posisi Batam sebagai pemain baru dalam jaringan logistik internasional.
Selain pengembangan kapasitas, PTK juga mendorong sentralisasi aktivitas petikemas di satu terminal guna meningkatkan efisiensi operasional sekaligus mempermudah pengawasan oleh regulator, termasuk Bea Cukai.
Dengan berbagai langkah strategis tersebut, PTK optimistis Batam akan berkembang menjadi alternatif hub logistik internasional yang mampu bersaing dengan pusat-pusat logistik utama di Asia Tenggara.
“Dalam tiga tahun ke depan, kami optimistis akan terjadi lonjakan signifikan dan Batam benar-benar menjadi hub logistik dunia,” pungkas Basori. (Btm/ddr)








